Thursday, May 14, 2015

Pembawa Batu Terhormat

   Terkadang hidup ini seperti lelucon, mereka berlomba-lomba bekerja keras demi mendapatkan lembaran kertas bergambar pejuang kemerdekaan yang telah lama tiada dengan angka nominal yang menunjukkan harga dari lembaran kertas itu. Mereka yang berfikir dengan keras sampai-sampai sebagian dari mereka mengalami kebotakan di usia dini karena terlalu kerasnya berfikir. Dari kejauhan beberapa orang tertawa melihat tingkah mereka, sedangkan beberapa orang lagi sibuk menikmati dunia ini. Mereka yang sedang menikmati dunia ini terlalu sibuk menghabiskan waktu mereka, bahkan untuk hanya sekedar melihat kebawah terlalu sulit untuk mereka. Tapi kali ini mereka yang sibuk menikmati dunia ini mulai terlupakan keberadaanya.

   Seorang lelaki datang dengan membawa setumpuk batu yang telah diperhalus permukaanya. Hari ini terlalu panas untuk membiarkan dia berjalan di tepian jalan, "Ah, orang tua mana yang setega itu membiarkan anaknya berjalan sendirian membawa tumpukan batu tak berharga itu", mungkin di era sekarang tumpukan batu itu hanya digunakan untuk sekedar beberapa acara gurauan belaka, yang ramai ketika mereka mengadakan pameran klasik era lama, yang tak memiliki harga ketika nuansa kehidupan mulai berjalan. Kenyataanya memang seperti itu, "Paman, apakah engkau membutuhkan batu ini, ketika kau membawanya mungkin itu tak ada nilainya, akan tetapi sangat bernilai bagiku untuk beberapa jam kedepan", anak kecil itu menawarkan pada seorang dengan setelan jas lengkap dengan tas kerja kantornya. "Hei nak, bahkan untuk memulai pembicaraan ini saja waktuku terus berjalan, sama saja artinya dengan kalimat yang baru saja kau ucapkan. Hentikan pembicaraan dan itu adalah nilai yang kau berikan untukku beberapa jam kedepan", seorang pria dengan setelan jas lengkap itu pergi dengan melambaikan tangan pada taxi yang baru saja melewatinya.

      Terlihat sebuah tangan abu-abu menjulur di sebuah kedai makanan di pinggir jalan itu, "Bahkan untuk melihat nasi hari ini saja aku belum melakukanya, apalagi memakanya", di pinggir jalan yang lain seorang lelaki dengan kaki pincang berwarna abu-abu menerobos ke tengah perempatan jalan tanpa seucap kata melambai-lambaikan tanganya di setiap kendaraan yang melewatinya. Seorang anak kecil melukis wajahnya dengan cat abu-abu ketika memberikan lembaran kertas putih kusut bertuliskan "Untuk membeli alat tulis", di lembaran yang lain ternyata membentuk pola kalimat berbeda yang bertuliskan kebutuhanya. Sejenak teringat momen saat natal yang menuliskan permohonan dan memasukkanya ke dalam kaos kaki merah di samping perapian malam. Terlepas dari apa yang telah mereka lakukan, warna abu-abu mulai meluntur. Ada warna baru yang terlihat di balik warna abu-abu itu, dan ternyata warna itu adalah warna-warni pelangi.

      Seorang pria berusia remaja bertanya kepada seorang lain yang memiliki warna abu-abu, "Apakah kau tak lelah memberikan warna abu-abu ?, bukankah masih ada banyak warna yang seharusnya kau berikan pada dirimu ?", lalu orang yang memiliki warna abu ini menjawab, "Bahkan untuk mengungguli dan melebihi warna ini dalam bertahan hidup kalian belum tentu bisa melakukanya", remaja itu sedikit kecewa mendengar jawaban pemilik warna abu ini, lalu orang yang memiliki warna abu ini melanjutkan jawabanya, "Apakah kalian tak sadar jika warna abu ini ada karena kalianlah yang membiasakan warna ini tetap ada ?, dan keuntunganya kalian tak pernah sadar jika kalian menebar warna abu ini", pemilik warna abu-abu ini tertawa puas. Remaja itu terlihat biasa mendengar jawaban pemilik warna abu, "Ya, aku sadar kalian terlalu nyaman dengan warna pemberian dari kami sehingga membuat kami tak pernah sadar jika masih banyak warna yang harus diberikan pada kalian", pemilik warna abu menghentikan tawanya dan mulai berbicara lagi, "Kita berada di zona dimana kalian tak akan pernah bisa mengungguli kami untuk masalah materi, melihat kalian berkerja keras, memutar otak untuk menghasilkan lembaran kertas nominal, sedangkan pada akhirnya kalianlah yang memberikan hasil itu pada kita secara cuma-cuma, kami hanya bisa tertawa dan mengubah diri menjadi kaum yang terlupakan keberadaanya". "Lalu apa yang terjadi jika kami menghapus warna abu-abu", remaja itu bertanya lagi, "Kau bodoh atau tolol ?, tentu saja warna abu-abu kita juga ikut memudar, bahkan mungkin kita lebih percaya jika warna lain lah yang lebih cocok untuk kita", dan jawaban pemilik warna abu itu menghentikan pembicaraan.

     "Hari ini terlalu panas, tapi aku tetap bersyukur aku masih bisa membawa batu ini dengan tubuh sehatku, aku juga masih bisa bertemu teman-temanku, bercanda dengan mereka, menjalani hari-hariku dengan masih ada yang bisa kuhasilkan dari batu ini. Hidupku terlalu indah jika harus dibandingkan dengan mereka yang masih memiliki warna abu-abu"

       "Walaupun aku tidak pernah tahu apa itu abu-abu, tapi aku merasa ribuan bahkan jutaan kali lebih terhormat"

Inspirasi :



No comments:

Post a Comment