Tuesday, May 12, 2015

Segalanya, Adalah Waktu

      Dua waktu yang dilalui perlahan membuka setiap pembahasan yang ingin dicapai para manusia di tengah padang rumput itu. Mereka berebut tetesan air yang disebarkan oleh seorang rekannya dengan tawa puas yang perlahan mulai terdengar serak karena kehabisan suara. Jika dilihat dari jarak sekitar 300m dari tempat orang-orang itu, seorang anak kecil terduduk lemas tanpa gairah. Mungkin sepertinya anak kecil itu kelaparan, tapi ada yang aneh ketika sebuah tas yang dia bawa mengeluarkan bebauan roti. Tanpa seucap kata anak kecil yang terlihat sejak tadi duduk lemas itu mulai meraih roti yang berada di tasnya. "Maafkan aku jika ternyata aku sedikit lama menyia-nyiakan anugerah serta manfaat yang seharusnya kunikmati", akhirnya dia mulai membuka bungkusan roti itu lalu memakanya.

      Angin yang berhembus di padang rumput ini begitu sejuk, namun terik matahari siang berhasil membungkus rapi kesejukan yang seharusnya tiba. Tak banyak yang merasakan kejamnya matahari di siang ini karena sebagian besar orang merasa bahagia sejak tadi pagi. Tanpa kecuali anak kecil itu yang mensyukuri apa yang akhirnya dia lakukan kepada kebutuhanya. 

      Matahari memang kejam, namun masih ada yang lebih kejam dari sosok matahari, yaitu "waktu". Jika matahari kejam maka waktu adalah keji, tak pernah ada toleransi yang diberikan, tak pernah ada penangkal untuk memanipulasi waktu, dan jika ada yang lebih hebat dari waktu, pastinya dia adalah seorang pengendali waktu. Terlihat sekilas lelucon karena selama ini mereka berjalan di atas lantai sebuah waktu. Menyebut dirinya adalah "korban", korban yang lebih memilih mempermasalahkan hal lain daripada waktu yang keji, lebih memilih bungkam. Bukan karena tak berani untuk melawan, tapi terlalu menikmati jalan.

      Fatamorgana mulai terlihat di ujung padang rumput yang bergerak tak beraturan. Tanda ketika banyak yang mulai mengharap, dan harapan itu nyata didepan mata mereka. Harapan adalah hal terkonyol ketika sama sekali tak ada yang mengarapkan rasa kecewa. Bukankah tanpa sadar waktu yang memberikan jawaban ?, lalu se "Tuhan" itukah sebuah waktu ?, yang tak pernah mengulang, yang tak pernah memberikan tanda, yang terus berjalan tanpa menghiraukan apa yang mengiringinya, dan yang selalu memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada di masa lalu.
     


No comments:

Post a Comment