Kepadatan kota ini meninggalkan beberapa kisah yang mungkin sulit dipercaya bagi kebanyakan orang, sebut saja nama kota yang mulai menceritakan kisahnya adalah "Merah", dan mereka menyebut negara ini adalah negara "Warna". Waktu perlahan mulai menunjukkan pukul 2 dini hari dan kota merah pun masih melakukan berbagai aktifitas yang jarang dilakukan beberapa kota lain disampingnya seperti Kota Biru dan Hijau. "Hei merah, apakah kau sudah mulai ingin memberikan pengaruhmu kepada negara kita ?, apakah kau sama sekali tidak melihat adanya perbedaan yang sangat mencolok antara kau dengan kita ?", bersamaan dengan kata-kata Kota Biru itu, Kota hitam pun menyahut dengan suara yang lantang "Lantas apakah kau ingin memberikan pengaruhmu padaku merah ?", seakan tidak tahu jika biru sedang menanyakan hal yang penting kepada si merah. Setelah mendengar kata-kata si biru, merah pun sama sekali tidak melihat wajahnya, tapi memberikan senyumnya kepada si hitam. "Oh, tentu saja aku ingin, apakah kau ingin memberikan kesedihan yang ada di kotamu ?, mari kita saling berbagi. Bagaimana jika semua sengsara ini kuberikan padamu, lantas aku mendapatkan kesakitan dari kotamu ?". Tanpa banyak kata si biru dengan ekpresi marah mulai menghubungi seluruh kota yang berada di negara warna itu.
Perlahan kantor negara warna ini dipenuhi dengan seluruh kota warna, "Dengan begini kita mulai rapat pertemuan yang diusulkan beberapa pihak yang sampai detik ini masih belum memberikan kesepakatan", si putih mulai memimpin rapat dengan berada pada barisan melingkar yang mulai padat akan warna. "Lihatlah merah, bukankah kau sendiri yang menyebabkan semua ini terjadi, jika kau tidak memberikan ulah yang berkepanjangan mungkin sampai saat ini kemakmuran kotaku akan terus bertahan", kata-kata si kuning seolah memberikan usulan kepada peserta rapat dari kota warna lainya untuk memberikan pertanyaan lanjutan. "Apa maksudmu ?, disini aku sama sekali tidak memihak si merah atau siapapun, yang jelas senyuman kotaku menghilang sejak diadakan rapat besar ini, seolah mereka takut kalian akan merampas senyuman dari kotaku", jawab si hijau. "Apa ?, senyuman ?, bukankah hal itu sudah menghilang sejak kau mulai memutuskan memberikan sumber daya mu kepada si hitam ?", sahut si biru dengan nada sedikit kesal, "lihatlah, lihatlah apa yang sejak tadi kalian perdebatkan sementara hari ini aku harus menghentikan ulah si merah", "ini bukan tempat dimana kalian para kota warna memberikan pengaruh satu sama lain, ini hanya pertemuan yang sebenarnya diinginkan oleh si biru untuk mengentikan ulahku, dan itu membuatku bertanya-tanya mengapa harus ada rapat seperti ini?", jawab si merah yang sejak tadi diam dan memperhatikan percakapan teman-temanya. "Lalu sudah berapa kali kita mulai membiacarakan ini hah ?, bukankah kau sendiri yang terus menerus memberikan pengaruhmu kepada kota-kota yang ada di sekitarmu ?, aku disini hanya ingin agar mereka semua sadar jika kau sudah memberikan pengaruhmu". "Pengaruh apa yang kau maksudkan ?, selama ini aku hanya ingin berbagi kepada mereka", jawab si merah, "berbagi dalam hal apa hah ?,bukankah sejak negara warna ini dibentuk kita satu sama lain sudah paham betul jika setiap kota yang ada di negara ini sudah memiliki hal yang menjadi karakter mereka", si biru pun mulai berdiri dari tempat duduknya dan menunjuk wajah si merah dengan ekspresi kesal "dan yang lebih parahnya lagi, banyak kota di negara ini tidak peka terhadap apa yang telah dilakukan si merah, apakah kalian sadar ?, apakah kalian sadar jika kota kalian sudah mulai berubah ?, siapa yang memberikan pengaruh jika aku boleh bertanya jika bukan karena si merah ini", kata si biru dengan ketus. "Aku sejak tadi hanya memperhatikan ulah kalian, bukankah sebenarnya beberapa dari kalian sadar", si abu-abu yang sejak tadi diam mulai memberikan pendapatnya, "bukankah sejak tadi kalian sadar siapa yang sebenarnya salah dan benar di posisi sekarang, oh tidak, maksudku bukankah kalian seharusnya tertawa mendengar ulah dari rekan kalian disini ?", "apa maksudmu ?, bukankah sejak tadi kau hanya diam dan melihat, kenapa tiba-tiba kau memberikan pendapatmu ?dan yang lebih parah lagi kita bukan rekan, kita memiliki hal-hal yang seharusnya tidak bisa dibagi satu sama lain", sangkal si biru. "Oke, baiklah dan mari kita tertawa", si abu-abu bertepuk tangan, bersamaan dengan itu si hijau mulai mengikuti dengan si hitam yang dipenuhi ekspresi tanda tanya. Banyak peserta yang mulai kebingungan dengan rapat yang sudah mereka jalankan selama kurang lebih 1 jam ini, sebagian dari mereka mulai sibuk dengan saling berdiskusi satu sama lain tapi sama sekali tidak memberikan pencerahan pada rapat yang sudah berlangsung ini.
"Baiklah, jika sepertinya rapat ini sudah jelas mari kita tutup" tiba-tiba si putih memberikan suara yang secara bersamaan membuat gaduh isi ruangan. "Hah ? dihentikan ?, apakah seperti ini jawaban yang dapat kau simpulkan dari rapat ini ?, betapa bodohnya jika ternyata suatu hari masalah ini masih terus saja berlanjut", "sudahlah biru, bukankah lebih baik kita berdamai saja ?, apakah kau hanya takut jika tanpa sadar kau sudah terpengaruh olehku suatu saat ?", "Apa maksudmu dengan tak sadar, oleh karena aku masih sadar aku ingin menghentikan kegilaanmu saat ini juga !!", si biru mulai marah dengan suara lantangnya mulai memenuhi isi ruangan. Seketika biru mulai mengeluarkan makian dan pendapatnya si merah pun berdiri dan berbicara, tapi si abu-abu melarangnya dan memberikan isyarat padanya agar dia saja yang berbicara, Dengan memberikan sedikit senyuman kepada si merah, si abu-abu pun mulai berdiri.
Abu-abu memberikan banyak penjelasan yang kemudian membuat semua peserta rapat tertawa, sebagian ada yang masih kebingungan dan hanya tertawa karena mengikuti rekanya. Akan tetapi dari jawaban itu si biru entah merasa tetap marah dan tidak sepakat ataupun sudah mengerti akan tetapi malu untuk mengungkapkan, yang jelas setelah mendapat penjelasan dari pendapat si abu-abu, si biru meninggalkan ruangan dengan berkata "Kotaku masih membutuhkan, aku dan juga negara ini".
No comments:
Post a Comment