Sunday, May 3, 2015

Aku, Kau, Mereka. Kita Semua Teracuhkan.

Kotak bercahaya yang ada didepan mulai terasing, lebih menikmati abjad yang berderet tak rapi di sudut 45 derajat. Mengamati seraya berfikir "Apa yang membuat mereka berserakan disini". Dinding itu putih, karena terlalu putihnya sampai-sampai memantulkan cahaya sempurna. "Hei", suara panggilan itu perlahan mulai menggetarkan gendang telinga. "Hei..!!", sekali lagi, namun kali ini lebih terdengar. Seketika itu dia mulai sibuk dengan kotak putih dengan abjad berderet tak rapi di sudut 45 derajatnya. Selama 24 tahun ini banyak yang mengira, bahkan dia sendiri mengira dirinya bahagia dengan sesuatu yang diharapkanya.

"Apakah kau pernah tersenyum ?, bagaimana caranya kau melakukan itu ?, tolong ajarkan padaku" seorang gadis kecil itu bertanya dengan girang pada seorang ahli sirkus yang mengenakan topi aneh mirip rusa, rambut cat warna terang dan segala macam pernak pernik yang sama sekali tidak ada kata "padu" dengan warna kulitnya. Dengan tersenyum (Seketika seorang datang berbisik "Oh, ayolah apa itu bisa dikatakan senyum ?, hanya dagu bawahnya saja yang terlihat panjang") si pemain sirkus dengan aksesoris aneh ini pun menjawab "Bukankah kau sudah tersenyum ketika bertanya tentang senyuman padaku ?", sambil terheran-heran gadis itu mengulang kembali pertanyaanya "Apakah kau pernah tersenyum ?, bagaimana caranya kau melakukan itu ?, tolong ajarkan padaku, ayolah", kali ini si gadis dengan wajah polos usia 6 tahun ini sedikit merengek. 


Lalu apakah arti sebuah senyuman jika kita selalu ingin tahu alasanya, apakah wajar jika gadis kecil usia 6 tahun menanyakan perihal tentang senyuman, bagaimana caranya, darimana asal-usulnya, apa alasanya. Mereka mengatakan bukan senyuman yang ingin diketahui apa alasan dibalik senyuman itu, tapi dimanakah kau bisa tersenyum.

"Hei, aku bertanya padamu, tolong jangan acuhkan setiap pertanyaan yang datang menghampirimu". Terheran sesaat jika mendalami apa yang dikatakan gadis ini baru saja. Sempat berfikir jika mungkin ada sesuatu yang merasuki si gadis ini. "Ah, maafkan aku. Aku mungkin terlalu lelah hari ini hingga tak sadar jika ekspresiku baru saja mengacuhkanmu, mungkin dunia sudah bosan dengan hari-hari yang dipenuhi pertanyaan dan jawaban",pemain sirkus aneh ini berbicara seraya mengambil handuk lalu mencucinya dengan air dingin. "Aku tak mengerti sama sekali maksutmu tuan, yang kutanyakan hanyalah bagian dari usia 6 tahun yang dipenuhi rasa ingin tahu tentang apa yang dilihatnya, lalu dimanakah rasa kedewasaanmu tuan ?". Dengan wajah sedikit tidak perduli si pemain sirkus berjongkok di hadapan gadis kecil ini. "Lihatlah, apakah wajah ini makin memenuhi rasa ingin tahumu di usia 6 tahun ?, apakah kau mulai berfikir jika setiap hal yang kau lihat perlu ditanyakan mengapa, apa, bagaimana, kenapa dan puluhan kata tanya ??", sambil perlahan meraih tangan si gadis kecil itu, si pemain sirkus pun sedikit memperkecil volume suara yang sejak tadi mulai terdengar di halaman panggung yang mulai dipenuhi banyak orang untuk melihat pertunjukan "Hei, siapa namamu wahai gadis kecil"

"[...]"


No comments:

Post a Comment